Frugal Living: Mengulik Potensi Hemat Kaum Tengah dari Langganan OTT
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/3288486/original/088659700_1604588669-20201105_213526.jpg)
Liputan6.com, Jakarta - Gaji baru masuk tapi sejumlah kebutuhan sudah menunggu. Ada biaya kos, makan, transportasi, tagihan, hingga sedikit uang untuk menikmati hiburan setelah seharian bekerja. Di tengah kondisi tersebut, frugal living atau gaya hidup hemat bisa menjadi cara kaum tengah mengelola pengeluaran, termasuk mengevaluasi biaya langganan digital yang kerap luput dari perhatian.
Di tengah pengeluaran rutin itu, biaya langganan digital kerap luput dari perhatian. Nominal puluhan ribu rupiah mungkin terasa ringan untuk satu layanan. Namun, ketika beberapa platform aktif bersamaan, total pengeluarannya bisa mencapai ratusan ribu rupiah setiap bulan.
Dalam konteks frugal living, mengevaluasi langganan over-the-top (OTT) bisa menjadi langkah sederhana untuk menghemat uang tanpa harus sepenuhnya menghilangkan hiburan.
Journal Kaum Tengah Liputan6.com memantau bagaimana biaya langganan digital menjadi salah satu pos pengeluaran yang layak dievaluasi, mulai dari platform film dan musik hingga aplikasi AI.
Bagi kaum tengah yang harus membagi penghasilan untuk banyak kebutuhan, penghematan tidak selalu harus dimulai dari pengeluaran besar. Mengurangi biaya puluhan ribu rupiah secara konsisten pun bisa membantu menjaga kondisi keuangan.
Di sinilah prinsip frugal living menjadi relevan. Gaya hidup ini bukan berarti menolak kesenangan atau selalu memilih pilihan termurah, melainkan menggunakan uang secara sadar dan memastikan setiap pengeluaran memberikan manfaat yang sepadan.
Sebelum membayar layanan baru, seseorang bisa memeriksa apakah sudah ada aplikasi serupa yang dimiliki atau apakah versi gratisnya mencukupi. Kebiasaan sederhana tersebut membantu mencegah pengeluaran tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Langganan produk digital menjadi salah satu contoh yang dekat dengan keseharian. Daripada membayar beberapa platform sekaligus, pengguna dapat mempertahankan layanan yang paling sering dipakai dan mengalihkan sisa uangnya untuk tabungan, dana darurat, atau kebutuhan lain.
Kutipan awal dari Liputan6, ditulis oleh Muhammad Yudha Pratama. Hak cipta artikel milik penerbit.



