Liputan6 Bacaan 1 menit

Rupiah Melemah, Perajin Tahu-Tempe Terancam Gulung Tikar

Rupiah Melemah, Perajin Tahu-Tempe Terancam Gulung Tikar
Seorang pekerja menyiapkan kedelai di pabrik tahu, Surabaya, Jawa Timur. (JUNI KRISWANTO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Tren pelemahan nilai tukar rupiah kian menjepit keberlangsungan industri tahu dan tempe nasional. Tingginya ketergantungan terhadap impor kedelai membuat lonjakan harga bahan baku tak terelakkan, hingga memaksa para perajin, khususnya skala kecil dan menengah menghadapi pembengkakan biaya produksi.

Menanggapi kondisi yang kian genting ini, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mendesak pemerintah untuk segera turun tangan menstabilkan harga kedelai impor, sekaligus mempercepat program swasembada kedelai nasional.

Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nurcahyo, menuturkan bahwa terpuruknya kurs rupiah langsung berdampak pada melonjaknya beban operasional perajin di lapangan.

"Ketika rupiah melemah, harga kedelai impor semakin mahal. Kondisi ini membuat biaya produksi pengusaha tahu dan tempe meningkat, sementara kami tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujar Wibowo kepada Liputan6.com, Rabu (4/11/2026).

Lanjutkan membaca di Liputan6

Kutipan awal dari Liputan6, ditulis oleh Idris Rusadi Putra. Hak cipta artikel milik penerbit.

Berita lainnya untuk Anda