Liputan6 Bacaan 2 menit

Penjualan Merek Barang Mewah Terpukul Imbas Ekonomi Lesu di China

Penjualan Merek Barang Mewah Terpukul Imbas Ekonomi Lesu di China
Akibat ekonomi yang lesu dan pasar saham yang lemah, warga China mengurangi pengeluaran barang mewah. / Foto dok: Prada.

Liputan6.com, Jakarta - Grup barang mewah Kering, pemilik LVMH, Hermes, dan Gucci, melaporkan penjualan yang mengecewakan akibat lesunya ekonomi di China yang menekan industri barang mewah. Nilai pasar grup barang mewah teratas Eropa telah tergerus sekitar 250 miliar euro, atau Rp 5.063 triliun (asumsi kurs euro terhadap rupiah di kisaran 20.256) tahun ini. Ini diakibatkan oleh konsumen China yang mengurangi pengeluaran dan pasar saham AI yang bergejolak.

Melansir CNA, Selasa (27/10/2026) laporan dari Kering bulan ini anjlok dari ekspektasi pasar yang sudah lebih rendah, sehingga menjadi bukti bahwa industri barang mewah terus menurun tahun demi tahun.

Enam perusahaan mewah terdaftar di Eropa, termasuk Richemont, Prada, dan Moncler, telah kehilangan 251 miliar euro (Rp 5.084 triliun) nilai pasar tahun ini. Kemerosotan paling dirasakan oleh LVMH dan Hermes, dua grup barang mewah terbesar. Kapitalisasi pasarnya telah menyusut 131,6 miliar euro (Rp 2.665 triliun) bagi LVMH dan 93,3 miliar euro (Rp 1.889 triliun) bagi Hermes.

Permintaan dari China Melemah

Permintaan dari pembeli China telah menjadi tonggak industri selama lebih dari satu dekade, tapi lesunya pasar properti yang berkepanjangan dan performa pasar saham yang lemah telah mengurangi permintaan domestik selama beberapa tahun.

Lantaran pertumbuhan penjualan ritel bulanan di ekonomi terbesar di dunia ini hanya mencapai kurang dari 0,5% dalam enam bulan terakhir, sebuah penurunan dibanding tahun lalu.

“Pemulihan konsumen barang mewah dari China yang diharapkan industri kini tertahan… sehingga hasilnya menyebabkan kemunduran dalam hasil kinerja, tekanan penurunan pada harga saham, serta proses introspeksi yang mendalam,” ujar analis Bernstein, Luca Solca.

LVMH, Kering, dan Hermes, semuanya melaporkan adanya penurunan yang nyata di China pada kuartal ketiga dalam pengumuman kinerja bulan ini. chief financial officer LVMH, Cecile Cabanis menuturkan, penjualan pada lini mode utama dan divisi barang kulit LVMH merosot belasan persen pada klien China secara global.

Lanjutkan membaca di Liputan6

Kutipan awal dari Liputan6, ditulis oleh Cahya Alena Fauza. Hak cipta artikel milik penerbit.

Berita lainnya untuk Anda