Mengapa penolakan terhadap pusat data makin masif?

Hingga beberapa tahun yang lalu, banyak dari kita mungkin sama sekali tidak menyadari apa itu pusat data.
Bangunan-bangunan raksasa yang mirip gudang ini mendukung hampir seluruh aktivitas internet kita, mulai dari pencarian web dan email hingga unduhan film atau perbankan online.
Mereka berada di jantung perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI). Fungsinya adalah untuk menampung chip komputer canggih dan server yang diperlukan guna menjalankan layanan seperti ChatGPT dan Claude.
Namun, laju pertumbuhannya yang drastis, jumlah listrik yang sangat besar yang dikonsumsinya, serta kekhawatiran mengenai dampak lingkungannya memicu reaksi keras dari masyarakat di seluruh dunia.
Di AS, isu ini telah menjadi perdebatan besar menjelang pemilihan sela pada 3 November, dengan Republik maupun Demokrat sebagai oposisi sama-sama menentang pengembangan pusat data.
Hal ini menempatkan para penentang perluasan pusat data pada jalur bentrokan dengan Presiden AS Donald Trump, yang telah menepis penolakan tersebut sebagai "konspirasi gila", meskipun kemarahan publik terus meningkat.
Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang perkembangan pesat pusat data dan mengapa penolakan terhadapnya semakin meluas.
Makin pesat
Menurut Data Center Map, sebuah perusahaan yang memantau lokasi-lokasi yang sudah beroperasi maupun yang masih dalam tahap pra-operasi, terdapat sekitar 12.250 pusat data di seluruh dunia.
Akhir dari Paling banyak dibaca
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 2021, ketika terdapat sekitar 8.000 lokasi yang sudah beroperasi.
Sebagaimana ditunjukkan pada grafik di bawah ini, pusat data paling padat terkonsentrasi di AS yang memiliki 4.767 lokasi. Posisi berikutnya adalah di UK dan Jerman.
Pusat data biasanya berlokasi di dekat kota-kota karena akses ke saluran listrik tegangan tinggi atau sumber air untuk pendinginan lebih mudah.
Kutipan awal dari BBC Indonesia, ditulis oleh Daniel Thomas. Hak cipta artikel milik penerbit.



