Mahasiswa dan masyarakat akan gelar demo pada hari Sumpah Pemuda, bawa tajuk 'Tepati atau Pergi'

Bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober, sejumlah mahasiswa beserta elemen sipil akan melangsungkan demo terhadap pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Aksi diperkirakan muncul di kota-kota besar seperti Jakarta serta Yogyakarta. Apa saja tuntutannya?
Di Jakarta, Bundaran Hotel Indonesia dipilih menjadi titik demonstrasi. Aksi diinisiasi oleh kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Komite Sadar.
Mereka mencakup Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, BEM Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta, Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, serta BEM Universitas Diponegoro.
Kemudian ada Serikat Mahasiswa UGM, Keluarga Mahasiswa ITB, sampai BEM KM Universitas Negeri Semarang.
Dalam keterangan resminya, BEM UI menyebut demo 28 Oktober 2026 merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya yang dihelat di Tugu Tani, Jakarta, pada 20 Oktober 2026—bertepatan dua tahun kekuasaan Prabowo-Gibran.
Pada aksi kali ini, Komite Sadar mengusung tema "Tepati atau Pergi." Di media sosial, mereka menonjolkan simbol tiga jari (three-finger salute) yang dipopulerkan novel The Hunger Games sebagai materi kampanye.
BEM UI menyatakan bahwa three-finger salute "telah bertransformasi menjadi instrumen perlawanan yang lugas melampaui batas-batas fiksi."
Akhir dari Paling banyak dibaca
Jauh sebelum riuh di jalanan, three-finger salute, sambung BEM UI, "telah menjadi bahasa universal bagi gerakan sosial prodemokrasi di berbagai belahan dunia."
"Mulai dari penolakan kudeta militer di Thailand dan Myanmar hingga perlawanan terhadap represi di Hong Kong. Terinspirasi dari semangat Revolusi Prancis, setiap jari membawa manifestasi nilai liberté [kebebasan], égalité [kesetaraan], dan fraternité [persaudaraan]," ucap BEM UI.
Dengan simbol itu, BEM UI mengungkapkan "sudah saatnya kita merebut kembali ruang demokrasi."
"Penggunaan simbol ini adalah identitas kita bersama untuk merapatkan barisan, baik di jalanan maupun dalam aktivisme digital," tegas mereka.
Kutipan awal dari BBC Indonesia, ditulis oleh Redaksi BBC News Indonesia. Hak cipta artikel milik penerbit.



