BBC Indonesia Bacaan 5 menit

Jepang sering jadi tuan rumah ajang kelas dunia, namun mengapa penyelenggaraan Asian Games begitu kacau?

Jepang sering jadi tuan rumah ajang kelas dunia, namun mengapa penyelenggaraan Asian Games begitu kacau?
Keterangan gambar, Salah-satu pertunjukan pada upacara penutupan Asian Games 2026.

Penulis, Kurumi MoriPeranan, Koresponden Tokyo dan Penulis, Issey Izumi

Dari Olimpiade hingga konvensi gim tahunan di Tokyo, Jepang dikenal berpengalaman menjadi tuan rumah berbagai ajang internasional berskala besar. Namun, Asian Games tahun ini di Nagoya dan wilayah Prefektur Aichi justru diwarnai beragam masalah.

Masalah yang terjadi mulai dari kesalahan diplomatik, kekeliruan dalam layanan transportasi, hingga kekacauan akomodasi. Di kolom komentar media sosial dan forum daring, sejumlah orang menyebutnya sebagai "Asian Games terburuk dalam sejarah" dan menyerukan "penyelidikan menyeluruh".

Prof Kozo Tomiyama, peneliti ajang olahraga besar dari Universitas Osaka, menilai penyelenggara tidak siap menghadapi berbagai persoalan tak terduga.

"Jika masalah-masalah ini merusak kepercayaan dunia terhadap kemampuan Jepang menyelenggarakan ajang olahraga, dampaknya bisa terasa pada kemampuan Jepang menarik kompetisi internasional di masa depan," ujarnya.

Wakil Direktur Jenderal Asian Games, Takaaki Omi, mengakui penyelenggara menghadapi berbagai persoalan yang sebelumnya tidak diperkirakan. Namun, dia menegaskan bahwa panitia menerima berbagai masukan dan terus melakukan perbaikan.

Rangkaian insiden

Bahkan sebelum turnamen dimulai, para peserta sudah mengeluhkan minimnya kamar yang tersedia dan buruknya kualitas akomodasi.

Untuk menekan biaya, panitia memutuskan tidak membangun perkampungan atlet seperti yang lazim dilakukan. Sebagai gantinya, para peserta ditempatkan di hotel serta unit hunian bergaya kontainer yang tersebar di Nagoya.

Seorang petinggi federasi basket Korea Selatan mengatakan para atlet bertubuh tinggi yang ditempatkan di kontainer kesulitan "meluruskan kaki mereka di atas tempat tidur".

Akhir dari Paling banyak dibaca

Penambahan peserta pada menit-menit terakhir semakin membebani kapasitas kota. Akibatnya, sebuah kapal pesiar Italia dengan 1.500 kabin harus digunakan untuk menutupi kekurangan akomodasi.

Kepada BBC, Takaaki Omi mengatakan komite penyelenggara awalnya menyiapkan akomodasi bagi hingga 15.000 anggota kontingen "sesuai dengan kontrak kota tuan rumah". Namun, setelah cabang olahraga tambahan dimasukkan ke dalam ajang tersebut, jumlah peserta bertambah 2.000 orang sehingga totalnya mencapai 17.000.

Lanjutkan membaca di BBC Indonesia

Kutipan awal dari BBC Indonesia, ditulis oleh Kurumi Mori. Hak cipta artikel milik penerbit.

Berita lainnya untuk Anda