Gerakan mahasiswa menggulingkan rezim berkuasa Serbia, bagaimana caranya?

Pemimpin Serbia yang telah lama berkuasa, Aleksandar Vučić, mengakui kekalahan dari gerakan protes pimpinan mahasiswa Studentska Lista dalam pemilihan umum sela legislatif.
"Kita masih belum mendapatkan hasil akhir... jelas bahwa kita telah kalah dalam pemilihan ini," kata pemimpin populis sayap kanan itu saat mengakui kekalahannya pada Minggu (25/10) malam.
Angka sementara yang diberikan komisi pemilihan Serbia menunjukkan tingkat partisipasi yang sangat tinggi. Menurut para pengamat, hal ini akan menguntungkan gerakan mahasiswa Studentska Lista.
Vučić menyerukan pemilihan umum sela setelah Serbia dilanda dua tahun protes yang dipicu oleh runtuhnya kanopi stasiun kereta api di Kota Novi Sad pada 2024. Insiden itu menewaskan 16 orang dan dianggap sebagai simbol korupsi dan kelalaian di Serbia.
Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, gerakan mahasiswa ini berhasil menggoyahkan kekuasaan Aleksandar Vučić yang telah mendominasi politik Serbia selama 14 tahun.
Dukungan kepada partainya, Partai Progresif Serbia (SNS), terus merosot hingga akhirnya kalah dalam pemungutan suara yang menjadi penentu masa depan Serbia.
Di berbagai kota, mulai dari Belgrade, Novi Sad, hingga Niš, para pendukung merayakan kemenangan dengan penuh sukacita.
Mereka berkumpul di pusat kota dan di depan markas Studentska Lista atau Daftar Mahasiswa. Melalui media sosial, kelompok mahasiswa itu menyampaikan pesan singkat: "Serbia telah merdeka."
Akhir dari Paling banyak dibaca
Salah satu momen paling melambangkan perubahan itu adalah pembongkaran "Ćaciland", kamp tenda pendukung Vučić yang berdiri selama 18 bulan di Taman Pionir, kawasan pusat Belgrade di depan parlemen Serbia.
Pagar besi yang mengelilingi area tersebut dirobohkan di tengah yel-yel para pendukung oposisi yang meneriakkan, "Vučić akan pergi!"
Kutipan awal dari BBC Indonesia, ditulis oleh André Rhoden-Paul. Hak cipta artikel milik penerbit.



