Rupiah Sentuh Rekor Terlemah Rp 18.175/US$, BI Buka Suara

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan tekanan nilai tukar rupiah pada Rabu (28/10/2026) dipengaruhi oleh ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan masih dipengaruhi oleh ketidakpastian global.
"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$ 115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," ujar Erwin dalam pernyataan tertulis, Rabu (28/10/2026).
Menurut Erwin, memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu arus keluar dana dari pasar negara berkembang (emerging markets). Kondisi tersebut terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi atau yield.
Kutipan awal dari CNBC Indonesia, ditulis oleh Robertus Andrianto. Hak cipta artikel milik penerbit.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/737309/original/052660400_1410772785-HASHIM-DJOJOHADIKUSUMO-20140915-Johan.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342655/original/057756700_1757397640-2.jpg)
