ANTARA Bacaan 2 menit

Bolehkah minyak goreng dipakai berulang kali? Ini penjelasannya

Bolehkah minyak goreng dipakai berulang kali? Ini penjelasannya
Ilustrasi - Minyak jelantah atau minyak goreng bekas yang bisa diolah menjadi bahan baku biodiesel. (ANTARA/Frislidia)

Jakarta (ANTARA) - Beberapa dari kita mungkin suka memperhatikan minyak goreng di wajan penjual makanan yang sudah berubah menjadi kehitaman.

Hal serupa juga bisa terjadi di rumah, ketika minyak goreng masih tersisa dan terasa sayang jika langsung dibuang begitu saja. Lalu, akhirnya minyak tersebut dipakai lagi untuk menggoreng di waktu lain hingga warna dan teksturnya berubah.

Mungkin hal tersebut akan membuat seseorang bertanya-tanya, apakah minyak goreng bisa digunakan berkali-kali? Dan bagaimana cara yang aman untuk membuangnya? Simak penjelasannya berikut.

Apakah minyak goreng aman digunakan kembali?

Jawabannya adalah aman, selama menggunakannya dengan cara yang tepat. Namun, penting untuk diketahui bahwa meskipun minyak goreng aman digunakan berulang kali, tetapi semakin sering minyak dipanaskan maka akan semakin berisiko bagi kesehatan.

Eating Well menjelaskan bahwa minyak yang dipanaskan berkali-kali bisa membuat komposisi kimianya berubah. Kondisi ini bisa menciptakan senyawa beracun dan karsinogenik yang bisa merangsang berbagai jenis kanker, peradangan, dan tekanan darah tinggi.

Medical News Today juga menemukan bahwa kebiasaan tersebut bisa meningkatkan kadar kolesterol dan peradangan pada tubuh. Keduanya bisa memicu risiko penyakit liver, usus, dan mengganggu fungsi saraf.

Selain mendatangkan berbagai penyakit berbahaya, dampak lainnya juga terletak pada berkurangnya manfaat minyak bagi kesehatan. Kandungan lemak sehat seperti omega 3 bisa menurun dan justru yang melonjak adalah lemak berbahaya seperti lemak trans.

Setelah mengetahui berbagai dampak yang ditimbulkan dari kebiasaan menggunakan minyak berulang kali, mungkin akan timbul sebuah pertanyaan. Kapan sebaiknya minyak goreng dibuang?

Minyak goreng sebaiknya dibuang saat mengeluarkan beberapa ciri berikut:

Mulai berasap saat menggunakan suhu yang lebih kecil dari biasanya.

Lanjutkan membaca di ANTARA

Kutipan awal dari ANTARA, ditulis oleh Raissa Kusuma Hapsari. Hak cipta artikel milik penerbit.

Berita lainnya untuk Anda