CNBC Indonesia Bacaan 3 menit

TOBA Dapat Suntikan Rp7,77 Triliun Dari BlackRock, Duitnya Buat Ini

TOBA Dapat Suntikan Rp7,77 Triliun Dari BlackRock, Duitnya Buat Ini
Foto: TBS Energi Utama. (Dok. TBS Energi Utama)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten energi terbarukan, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) memperoleh investasi SGD555 juta atau setara Rp7,77 triliun dari HPS Investment Partners, bagian dari BlackRock, dan membuka peluang ekspansi bisnis pengelolaan limbah di kawasan Asia. Investasi ini sekaligus menyoroti model bisnis pengelolaan limbah TOBA menjangkau berbagai bagian dari rantai pasok pengelolaan limbah.

Baru-baru ini, pengolahan limbah sering diidentikkan dengan pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Namun demikian, bisnis pengolahan limbah secara keseluruhan memiliki rantai nilai yang sangat panjang, mulai dari pengumpulan, pemrosesan, hingga pemanfaatan kembali. Menariknya, TOBA telah menyatakan tidak memprioritaskan keterlibatan dalam proyek PSEL yang kini dikembangkan Danantara di Indonesia. Perseroan justru berfokus membangun bisnis pengelolaan sampah terintegrasi dengan cakupan regional, khususnya di kawasan Asia.

Berdasarkan informasi dari situs resmi perusahaan, bisnis pengelolaan sampah TOBA mencakup seluruh rantai layanan, mulai dari pengumpulan sampah (waste collection), pemilahan dan daur ulang (recycling), pengolahan limbah medis dan industri, hingga pemanfaatan sampah menjadi energi uap untuk industri.

Melalui model bisnis terintegrasi tersebut, TBS memiliki sejumlah sumber pendapatan, antara lain jasa pengumpulan dan pengolahan sampah, pemulihan material yang dapat didaur ulang, serta penyediaan energi uap untuk kebutuhan industri.

Berdasarkan siaran pers TOBA, investasi HPS akan dilakukan secara bertahap melalui penerbitan saham preferen baru ke anak usaha SBTH Asia Holdings Pte. Ltd. (SBTH) serta instrumen lainnya. Pendanaan tersebut ditujukan untuk mendukung pertumbuhan bisnis pengelolaan sampah TBS di kawasan Asia, baik secara organik maupun melalui akuisisi.

Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Leonardo Lijuwardi, menilai model bisnis pengelolaan sampah perlu dilihat secara lebih menyeluruh karena masing-masing bagian menawarkan peluang pertumbuhan yang lebih luas dibandingkan perusahaan yang hanya mengandalkan proyek pembangkit listrik tenaga sampah.

Lanjutkan membaca di CNBC Indonesia

Kutipan awal dari CNBC Indonesia, ditulis oleh Romys Binekasri. Hak cipta artikel milik penerbit.

Berita lainnya untuk Anda