Rupiah Melemah, Industri Manufaktur hingga Pangan Terancam Biaya Produksi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3158509/original/055501600_1592723442-2.jpg)
Liputan6.com, Jakarta - Pelemahan rupiah mulai membayangi industri dalam negeri karena sebagian besar kebutuhan bahan baku dan barang modal masih bergantung pada impor. Industri manufaktur, makanan dan minuman, hingga farmasi menjadi sektor yang rentan karena kenaikan nilai pembelian bahan impor dapat langsung menekan biaya produksi dan keuntungan perusahaan.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan industri dengan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku, komponen, dan mesin impor menghadapi tekanan paling besar akibat pelemahan rupiah.
“Impor bahan baku dan barang penolong tercatat mencapai US$ 150,57 miliar atau sekitar 71,5% dari total impor nasional, dengan pertumbuhan sebesar 21,11%. Sementara itu, impor barang modal mencapai US$ 41,55 miliar atau sekitar 19,7% dari total impor, tumbuh 16,49%,” kata Shinta kepada Liputan6.com, Rabu (4/11/2026).
Kutipan awal dari Liputan6, ditulis oleh Immanuel Christian. Hak cipta artikel milik penerbit.



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4902346/original/059937200_1721997344-20240726-Neraca_Perdangangan_RI-ANG_3.jpg)