Perencana Keuangan Ligwina Hananto Ungkap 2 Tipe Korban Pinjol
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387175/original/049814900_1793440229-IMG_3949.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta - Fenomena jeratan pinjaman online (pinjol) kian ramai dan telah menjadi persoalan pelik di berbagai lingkungan kerja, mulai dari badan usaha milik negara (BUMN), korporasi multinasional, swasta, hingga kementerian.
Lead Financial Trainer sekaligus Founder QM Financial, Ligwina Hananto, menyebut hampir semua perusahaan yang didatanginya untuk kelas literasi keuangan mengeluhkan masalah yang sama, karyawan yang terjerat utang pinjol.
Menurut Ligwina, orang-orang yang terjebak dalam pusaran utang digital ini pada dasarnya terbagi ke dalam dua kelompok besar.
"Korban yang pertama adalah orang yang desperate (terdesak). Hidupnya susah, ketimpa tangga, dan sudah sampai titik mentok. Orang seperti ini sudah tidak bisa berpikir dengan logika finansial, yang penting cepat ada uang karena tidak tahu lagi harus berbuat apa,” ujar Ligwina dalam acara perayaan 23 tahun QM Financial sekaligus peluncuran buku Belajar Finansial…
Kutipan awal dari Liputan6, ditulis oleh Rachel Aulia. Hak cipta artikel milik penerbit.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387262/original/089277400_1793454556-Penyidikan_dugaan_tindak_pidana_perbankan_di_PT_BPR_DCN.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3893147/original/054077900_1641196874-20220103-Pembukaan_Awal_Tahun_2022_IHSG_Menguat-4.jpg)
