Kisah Pengemudi Bajaj Pakistan Terancam Kelaparan Akibat Krisis Energi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4413340/original/076640400_1683087739-Inflasi_Pakistan_mencapai_rekor_tertinggi-AFP__5_.jpg)
Liputan6.com, Jakarta - Selama 13 tahun terakhir, Rashid Ali menggantungkan hidupnya sebagai pengemudi bajaj di Lahore, kawasan timur Pakistan. Harinya dimulai sejak pukul 06.00 pagi dan terkadang baru usai tengah malam. Biasanya, ia mampu mengantongi US$ 6,50 atau sekitar Rp 118.000 (kurs Rp 18.148 per US$), cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.
Namun, melonjaknya harga elpiji (liquefied petroleum gas/LPG) kini membuat pendapatannya terpangkas hingga kurang dari separuhnya.
Ali (33) adalah satu dari ribuan pengemudi di Pakistan yang mengandalkan bahan bakar LPG tabung, gas yang sejatinya lebih banyak digunakan untuk memasak dan pemanas ruangan.
Ketua Awami Rickshaw Union atau asosiasi becak motor Pakistan, Majeed Ghauri menyebut LPG selama ini menjadi bahan bakar rakyat miskin. 000 Qingqi (kendaraan roda tiga berbasis sepeda motor penyedia rute tetap), menggantungkan operasionalnya pada LPG.
Kutipan awal dari Liputan6, ditulis oleh Idris Rusadi Putra. Hak cipta artikel milik penerbit.


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3387759/original/098900800_1614331017-20210226-LPS-1.jpg)
