Kisah dari Karung Beras Cipinang: Bertahan di Tengah Isu Oplosan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385811/original/039304800_1793270494-WhatsApp_Image_2026-10-29_at_17.32.22.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta - Hiruk-pikuk Pasar Induk Cipinang tidak pernah benar-benar reda. Bau khas pati beras menyeruak kuat di udara, bercampur dengan derak roda troli dan deru mesin truk yang mengangkut berkarung-karung beras siap kirim. Di sudut-sudut lorong, kuli panggul berkaus basah keringat tampak cekatan memanggul karung setinggi bahu.
Sementara itu, di kios-kios eceran, transaksi berlangsung riuh. Para pembeli menjemput segenggam beras dari karung terbuka—merabanya perlahan untuk merasakan kelembapan, mendekatkannya ke hidung untuk menghirup aromanya, bahkan tak sedikit yang nekat menggigit satu-dua bulir beras guna memastikan kualitas. Di tengah tumpukan karung berjejer tinggi, bapak-bapak dan ibu-ibu tampak teliti memilih bahan pokok utama dapur mereka tersebut.
Kutipan awal dari Liputan6, ditulis oleh Rachel Aulia. Hak cipta artikel milik penerbit.


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373793/original/023619400_1791982457-Warm_Corporate_Executive_Headshot.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382906/original/068648100_1793023902-Menteri_Perindustrian__Menperin__Muhammad_Sarmuji-26_Oktober_2026a.jpg)