CNBC Indonesia Bacaan 3 menit

IHSG Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok 1%, Ini Penyebabnya
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah pada perdagangan sesi II Selasa (27/10/2026). Pada pukul 13.53 WIB, IHSG berada di level 5.318,96, turun 54,13 poin atau 1,01%.

Dari sisi aktivitas perdagangan, total volume transaksi tercatat sebesar 168,54 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp6.233,14 miliar.

Mengutip data Refinitiv, penyebab pelemahan IHSG pada pertengahan sesi II hari ini ditekan oleh sejumlah sektor. Sektor yang mengalami pelemahan besar yaitu utilities yang anjlok 3,6%, diikuti saham sektor teknologi yang turun 2,5%, dan energi yang turun 0,9%.

Adapun saham-saham pemberat IHSG antara lain, PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. DCI Indonesia Tbk. (DCII), dan PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN).

Sementara saham-saham penopang pelemahan IHSG antara lain, PT. Astra International Tbk. (ASII), PT. United Tractors Tbk. (UNTR), PT. Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT. Timah (Persero) Tbk. (TINS), dan PT. Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI).

Pasar keuangan Indonesia dibayangi sejumlah sentimen baik dari dalam ataupun luar negeri. Hijaunya Wall Street diharapkan bisa menjadi katalis positif. Kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) juga diharapkan semakin menambah kepercayaan investor. Dari luar negeri, perkembangan perang serta data ekonomi China akan menjadi penggerak pasar hari ini.

Sentimen dari luar negeri, inestor memantau perkembangan perang di Saudi, Turki, Pakistan Temui Iran, hingga Harga Minyak Melandai Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu pejabat Iran di Teheran pada Senin untuk meredakan konflik Timur Tengah. Pertemuan berlangsung di tengah meningkatnya serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan ancaman serangan baru dari Amerika Serikat (AS). Keempat negara sepakat melanjutkan dialog untuk memperkuat kerja sama perdamaian dan keamanan. Pakistan juga mengusulkan pembentukan jaringan non-agresi regional serta solusi konflik yang dapat diterima Washington dan Teheran. Namun, ketegangan masih tinggi. Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan kembali menyerang Iran, sementara Teheran menuntut pencabutan blokade pelabuhan dan sanksi ekspor minyak sebelum membahas program nuklirnya. Di sisi lain, parlemen Mesir menyetujui dukungan militer untuk membantu mempertahankan Arab Saudi. Langkah ini memperkuat kerja sama pertahanan regional di tengah konflik yang mengganggu pelayaran Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga energi dunia.

Lanjutkan membaca di CNBC Indonesia

Kutipan awal dari CNBC Indonesia, ditulis oleh Romys Binekasri. Hak cipta artikel milik penerbit.

Berita lainnya untuk Anda