Top 3: Krisis Ueno Bank Paraguay, Delapan Eksekutif Diperintahkan Ditahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391088/original/030224900_1793871681-AP26307508574674.jpg)
Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai membayangi aktivitas sektor riil. Dampaknya terasa hingga ke meja produksi, termasuk bagi perajin tahu dan tempe yang masih bergantung pada kedelai impor.
Ketika dolar semakin mahal, biaya pembelian bahan baku ikut meningkat. Namun, perajin tidak leluasa menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan daya beli masyarakat.
Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo, mengatakan pelemahan rupiah langsung menambah beban operasional pengusaha tahu dan tempe.
"Ketika rupiah melemah, harga kedelai impor semakin mahal. Kondisi ini membuat biaya produksi pengusaha tahu dan tempe meningkat, sementara kami tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujar Wibowo kepada Liputan6.com, Rabu, 4 November 2026.
Kutipan awal dari Liputan6, ditulis oleh Agustina Melani. Hak cipta artikel milik penerbit.



