Review Film: La bola negra (The Black Ball)

Duo sutradara Javier Ambrossi dan Javier Calvo atau yang akrab disapa Los Javis berhasil menyajikan La bola negra atau The Black Ball sebagai tontonan tragedi yang diracik begitu sinematik.
Judul La bola negra dipinjam dari naskah pertunjukan milik Federico García Lorca yang tak pernah rampung. Sang penulis revolusioner itu keburu dieksekusi pasukan pro-Franco saat Perang Saudara Spanyol berkecamuk.
Di tangan Los Javis, nasib naskah itu diimajinasikan ulang menjadi kisah tentang identitas queer yang mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu tarikan napas.
Penonton diajak masuk melalui tiga kisah berlatar waktu berbeda yang awalnya tampak seperti berdiri sendiri-sendiri, tapi sebenarnya saling berkaitan kuat.
Kutipan awal dari CNN Indonesia, ditulis oleh Christie Stefanie. Hak cipta artikel milik penerbit.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9392755/original/052911200_1794122067-IMG-20261108-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9392730/original/086283100_1794120023-L6IMG-20261108-WA0027.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9392711/original/005008100_1794117973-g_2026_11_07_r_nassar-20261107-018-busan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9392668/original/047568500_1794113694-g_2026_11_07_r_nassar-20261107-033-busan.jpg)