CNBC Indonesia Bacaan 2 menit

Raja HP Dunia Tenggelam, Sekarang Bangkit dan Berubah Total

Raja HP Dunia Tenggelam, Sekarang Bangkit dan Berubah Total
Foto: REUTERS/Mark Blinch

Jakarta, CNBC Indonesia - CEO BlackBerry John Giamatteo menilai robot berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai mesin pertumbuhan utama baru bagi sang mantan raja smartphone. Sempat bertengger sebagai salah satu pembuat telepon seluler terbesar di dunia, perusahaan asal Kanada tersebut kini telah merombak total fokus bisnisnya.

Setelah pensiun sebagai pemain utama di sektor smartphone era 2000-an, BlackBerry lebih fokus menggarap bisnis software dan layanan B2B. Sistem operasi QNX milik BlackBerry menjadi software dasar untuk fitur pengereman hingga kemudi semi-otonom.

Sistem operasi itu kini telah tertanam di lebih dari 275 juta kendaraan di seluruh dunia. Tak puas di industri otomotif, BlackBerry mulai melebarkan sayapnya untuk menggarap pasar physical AI yang tengah naik daun.

"Meskipun produk yang kami jual saat ini tidak lagi di genggaman tangan Anda, keberadaannya sangat masif di sekitar Anda," ujar Giamatteo saat diwawancarai Jim Cramer di program CNBC International, dikutip Selasa (27/10/2026).

"275 juta mobil, robot, instansi pemerintah, instrumen medis, hingga rantai pasok. Itulah BlackBerry baru, dan itulah yang mendorong pertumbuhan kami," ia menuturkan.

Menurut Giamatteo, sektor robotika tumbuh menjadi salah satu lini bisnis dengan akselerasi tercepat di ekosistem QNX. Berbeda dari AI generatif yang memproses teks dan gambar, physical AI memungkinkan robot serta mesin berinteraksi langsung di dunia nyata.

Berbekal rekam jejak di industri otomotif, BlackBerry membidik peluang sebagai penyedia perangkat lunak dasar agar operasional mesin-mesin tersebut berjalan aman dan andal.

Peluang ini berdampak langsung pada nilai pesanan tertunda (royalty backlog) QNX yang kini menembus US$1,2 miliar (Rp21 triliun), melonjak lebih dari US$250 juta hanya dalam dua kuartal.

Lanjutkan membaca di CNBC Indonesia

Kutipan awal dari CNBC Indonesia, ditulis oleh Redaksi. Hak cipta artikel milik penerbit.

Berita lainnya untuk Anda