Paradoks energi hijau di tanah yang terbakar

Jakarta (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghantui sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua. BNPB melaporkan bahwa hingga 2 November 2026, masih terdapat 742 hektare lahan terbakar di berbagai wilayah Indonesia.
Hujan memang mulai membantu pemadaman. Namun, bara api di bawah permukaan gambut masih menyimpan ancaman yang sewaktu-waktu dapat kembali menyala.
Di tengah langit yang masih kelabu, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan: bagaimana mungkin kita terus membanggakan agenda energi hijau, sementara masyarakat di wilayah penghasil komoditasnya masih harus menghirup asap beracun?
Indonesia memiliki ambisi besar mendorong transisi energi melalui program mandatori biodiesel. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus menekan emisi.
Kutipan awal dari ANTARA, ditulis oleh Ismail Khozen *). Hak cipta artikel milik penerbit.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389502/original/078460400_1793747528-WhatsApp-Image-2026-11-03-at-15.17.56.jpeg.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386771/original/071659600_1793365668-1000801828.jpg)